Jika Anda mencermati berbagai tayangan acara di sejumlah stasiun TV, hanya akan membuat hati kita miris dan pilu. Bagaimana tidak! Makhluk mungil bernama televisi itu telah menjadi sahabat setia anak-anak dan keluarga kita. Menemaninya sejak mereka bangun tidur hingga tidur kembali. Berbagai jenis acara di banyak saluran TV dengan mudah ditonton oleh mereka, dan tanpa sadar kita telah menyerahkan sebagian cara didik anak-anak dan keluarga kita kepada televisi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu tujuan sebuah program acara di TV adalah menghibur para pemirsa. Namun sangat disayangkan bila hiburan tersebut tidak disertai unsur mendidik dan mendatangkan kebaikan. Yang ada malah memperkenalkan budaya materialistis, mempertontonkan perilaku buruk, mengundang birahi dan semacamnya. Sehingga bisa dikatakan bahwa tayangan acara di TV justru menjadi salah satu penyumbang terjadinya berbagai tindak kriminal di tengah masyarakat.
Banyaknya stasiun televisi di tanah air tidak serta merta kian memperbanyak mata acara yang mendidik dan sarat edukasi sebagai alternative pilihan. Sebagaimana Rumah Produksi (PH) ternyata tidak banyak yang mengemban misi edukasi dan penanaman nilai-nilai moral dan agama dalam diri anak bangsa. Yang lebih dikedepankan adalah keuntungan semata. Tanpa peduli apakah program yang dihasilkan membawa dampak negative atau positif, baik atau buruk. Yang penting untung besar melalui iklan.
Realitas ini membuat kita sepakat untuk mengatakan bahwa TV kita saat ini lebih banyak membawa dampak buruk daripada yang baik. Acap kita dengar sejumlah kasus kekerasan dan kejahatan seksual terjadi karena pelakunya belajar dan terpengaruh pada sebuah tayangan di televisi. Dan lebih tragis lagi karena pelakunya terkadang anak dibawah umur. Sabtu, 28 Agustus 2010
Tayangan TV Perusak Moral Remaja
Salah seorang pakar pendidikan tanah air Prof. Arief Rachman, menyatakan bahwa kekerasan yang yang ditayangkan televisi sangat efektif merangsang naluri manusia yang paling rendah yang menyamai insting binatang, salah satunya adalah insting membunuh (Koran Tempo, 29 November 2006).
Bahkan aktor kawakan, Slamet Raharjo melihat begitu banyak produk sinetron atau film remaja yang membodohi masyarakat, dan ini tidak bisa dibiarkan terus berlangsung. Harus ada yang bertanggung jawab, dan pihak yang seharusnya bertanggung jawab ialah Presiden dan kalangan intelektual. Dia berkata, “Terlalu banyak catatan yang bernilai negatif terhadap dampak yang diberikan oleh sinetron remaja Indonesia pada saat ini, terlebih pada perkembangan anak-anak dan remaja Indonesia”.
Para orang tua, guru/pendidik, perlu menyadari dampak negatif televisi terhadap putra-putri kita, diantara adalah:
• Berpengaruh terhadap perkembangan otak anak, khususnya yang sedang dalam proses pertumbuhan.
• Mendorong anak menjadi konsumtif.
• Berpengaruh terhadap sikap.
• Mengurangi semangat belajar.
• Membentuk pola pikir sederhana.
• Mengurangi kemampuan konsentrasi.
• Mengurangi kreativitas.
• Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan)
• Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga.
• Matang secara seksual lebih cepat.
Bahkan pada bulan Ramadhan pun banyak bermunculan acara-acara televisi yang sangat jauh dari kesan edukatif dan sejalan dengan spirit Ramadhan. Yang marak adalah tayangan yang dinilai penuh adegan seronok dan caci maki. Apakah saat menjelang buka puasa atau ketika kaum Muslimin sedang makan sahur. MUI secara tegas telah mengkritik beberapa program televisi yang tidak sesuai spirit bulan suci ini. Khususnya acara komedi yang lebih mengedepankan unsur humor dan disajikan dengan kata-kata kasar, kotor dan seronok. Belum lagi berbagai acara mistik, kuis dengan unsur judi, ramalan dan sebagainya.
Seorang pakar pendidikan Hasrul Piliang dari Universitas Negeri Padang (dulu IKIP Padang), mengatakan, ”Negara harus bertindak tegas. Tak cukup hanya pernyataan ’memprihatinkan dan/atau menyesalkan’. Ada etika-etika yang harus dipenuhi.”
”Pelecehan seksual antarpelajar seolah-olah sesuatu yang wajar. Mereka berdalih sinetron adalah potret remaja dewasa ini. Padahal, tak ada dunia pendidikan yang seperti digambarkan di sinetron-sinetron,” katanya.
Sementara, pengamat masalah pendidikan anak dan Redaktur Majalah Kritis! Media untuk Anak Ike Utaminingtyas, menegaskan, dunia sekolah sering digambarkan sebagai ajang berpacaran dan guru sering dilecehkan seolah-olah hanya bisa mengatakan anak didiknya bodoh, tolol, dan kata-kata lain yang tak pantas diucapkan pendidik.
”Sekolah adalah tempat menuntut ilmu dan guru harus menularkan nilai-nilai positif, menjadi orang yang digugu dan ditiru (diikuti kata-katanya dan diteladani),” ujar Ike.
Menurut dia, boleh-boleh saja sinetron memakai atribut sekolah, tetapi harus memilah, patut atau tidak patut, dan memikirkan dampak negatifnya. ”Depdiknas harus mencermati, mana yang boleh dan yang tidak boleh ditayangkan,” ujarnya.
Direktur Pendidikan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas Erman Syamsuddin, mendesak pihak pengelola stasiun televisi menyeleksi ketat tayangan, terutama sinetron dengan sasaran anak-anak dan remaja, apakah ada unsur pendidikan atau tidak, berdampak positif atau tidak terhadap motivasi belajar dan kreativitas.
”Tayangan sinetron bukannya mendidik pemirsa (anak-anak dan remaja), tetapi cenderung merusak dan memberi contoh tak patut dicontoh,” ujarnya.
Agar bermanfaat bagi dunia pendidikan, sinetron harus berdasar komitmen, misalnya antara pihak sekolah dan produser. Kalau perlu, juga dengan gubernur/wali kota/bupati, sesuai dengan otonomi daerah. //**
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar