Jika Anda mencermati berbagai tayangan acara di sejumlah stasiun TV, hanya akan membuat hati kita miris dan pilu. Bagaimana tidak! Makhluk mungil bernama televisi itu telah menjadi sahabat setia anak-anak dan keluarga kita. Menemaninya sejak mereka bangun tidur hingga tidur kembali. Berbagai jenis acara di banyak saluran TV dengan mudah ditonton oleh mereka, dan tanpa sadar kita telah menyerahkan sebagian cara didik anak-anak dan keluarga kita kepada televisi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu tujuan sebuah program acara di TV adalah menghibur para pemirsa. Namun sangat disayangkan bila hiburan tersebut tidak disertai unsur mendidik dan mendatangkan kebaikan. Yang ada malah memperkenalkan budaya materialistis, mempertontonkan perilaku buruk, mengundang birahi dan semacamnya. Sehingga bisa dikatakan bahwa tayangan acara di TV justru menjadi salah satu penyumbang terjadinya berbagai tindak kriminal di tengah masyarakat.
Banyaknya stasiun televisi di tanah air tidak serta merta kian memperbanyak mata acara yang mendidik dan sarat edukasi sebagai alternative pilihan. Sebagaimana Rumah Produksi (PH) ternyata tidak banyak yang mengemban misi edukasi dan penanaman nilai-nilai moral dan agama dalam diri anak bangsa. Yang lebih dikedepankan adalah keuntungan semata. Tanpa peduli apakah program yang dihasilkan membawa dampak negative atau positif, baik atau buruk. Yang penting untung besar melalui iklan.
Realitas ini membuat kita sepakat untuk mengatakan bahwa TV kita saat ini lebih banyak membawa dampak buruk daripada yang baik. Acap kita dengar sejumlah kasus kekerasan dan kejahatan seksual terjadi karena pelakunya belajar dan terpengaruh pada sebuah tayangan di televisi. Dan lebih tragis lagi karena pelakunya terkadang anak dibawah umur. Sabtu, 28 Agustus 2010
Tayangan TV Perusak Moral Remaja
Salah seorang pakar pendidikan tanah air Prof. Arief Rachman, menyatakan bahwa kekerasan yang yang ditayangkan televisi sangat efektif merangsang naluri manusia yang paling rendah yang menyamai insting binatang, salah satunya adalah insting membunuh (Koran Tempo, 29 November 2006).
Bahkan aktor kawakan, Slamet Raharjo melihat begitu banyak produk sinetron atau film remaja yang membodohi masyarakat, dan ini tidak bisa dibiarkan terus berlangsung. Harus ada yang bertanggung jawab, dan pihak yang seharusnya bertanggung jawab ialah Presiden dan kalangan intelektual. Dia berkata, “Terlalu banyak catatan yang bernilai negatif terhadap dampak yang diberikan oleh sinetron remaja Indonesia pada saat ini, terlebih pada perkembangan anak-anak dan remaja Indonesia”.
Para orang tua, guru/pendidik, perlu menyadari dampak negatif televisi terhadap putra-putri kita, diantara adalah:
• Berpengaruh terhadap perkembangan otak anak, khususnya yang sedang dalam proses pertumbuhan.
• Mendorong anak menjadi konsumtif.
• Berpengaruh terhadap sikap.
• Mengurangi semangat belajar.
• Membentuk pola pikir sederhana.
• Mengurangi kemampuan konsentrasi.
• Mengurangi kreativitas.
• Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan)
• Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga.
• Matang secara seksual lebih cepat.
Bahkan pada bulan Ramadhan pun banyak bermunculan acara-acara televisi yang sangat jauh dari kesan edukatif dan sejalan dengan spirit Ramadhan. Yang marak adalah tayangan yang dinilai penuh adegan seronok dan caci maki. Apakah saat menjelang buka puasa atau ketika kaum Muslimin sedang makan sahur. MUI secara tegas telah mengkritik beberapa program televisi yang tidak sesuai spirit bulan suci ini. Khususnya acara komedi yang lebih mengedepankan unsur humor dan disajikan dengan kata-kata kasar, kotor dan seronok. Belum lagi berbagai acara mistik, kuis dengan unsur judi, ramalan dan sebagainya.
Seorang pakar pendidikan Hasrul Piliang dari Universitas Negeri Padang (dulu IKIP Padang), mengatakan, ”Negara harus bertindak tegas. Tak cukup hanya pernyataan ’memprihatinkan dan/atau menyesalkan’. Ada etika-etika yang harus dipenuhi.”
”Pelecehan seksual antarpelajar seolah-olah sesuatu yang wajar. Mereka berdalih sinetron adalah potret remaja dewasa ini. Padahal, tak ada dunia pendidikan yang seperti digambarkan di sinetron-sinetron,” katanya.
Sementara, pengamat masalah pendidikan anak dan Redaktur Majalah Kritis! Media untuk Anak Ike Utaminingtyas, menegaskan, dunia sekolah sering digambarkan sebagai ajang berpacaran dan guru sering dilecehkan seolah-olah hanya bisa mengatakan anak didiknya bodoh, tolol, dan kata-kata lain yang tak pantas diucapkan pendidik.
”Sekolah adalah tempat menuntut ilmu dan guru harus menularkan nilai-nilai positif, menjadi orang yang digugu dan ditiru (diikuti kata-katanya dan diteladani),” ujar Ike.
Menurut dia, boleh-boleh saja sinetron memakai atribut sekolah, tetapi harus memilah, patut atau tidak patut, dan memikirkan dampak negatifnya. ”Depdiknas harus mencermati, mana yang boleh dan yang tidak boleh ditayangkan,” ujarnya.
Direktur Pendidikan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas Erman Syamsuddin, mendesak pihak pengelola stasiun televisi menyeleksi ketat tayangan, terutama sinetron dengan sasaran anak-anak dan remaja, apakah ada unsur pendidikan atau tidak, berdampak positif atau tidak terhadap motivasi belajar dan kreativitas.
”Tayangan sinetron bukannya mendidik pemirsa (anak-anak dan remaja), tetapi cenderung merusak dan memberi contoh tak patut dicontoh,” ujarnya.
Agar bermanfaat bagi dunia pendidikan, sinetron harus berdasar komitmen, misalnya antara pihak sekolah dan produser. Kalau perlu, juga dengan gubernur/wali kota/bupati, sesuai dengan otonomi daerah. //**
Apakah Haji Anda Mabrur?
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan seasungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS Al Baqarah (2): 197).
SALAH satu bentuk kasih sayang dan karunia Allah SWT terhadap para hamba-Nya adalah dijadikan bagi mereka musim-musim kebaikan guna meningkatkan kesempurnaan kemanusiaannya serta meraih derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Setelah Ramadhan, kita memasuki musim kebaikan yang lain, yaitu musim haji. Di dalam musim ini ada sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang merupakan hari-hari sangat mulia sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:
“Tidak ada hari di mana amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari (Dzhulhijjah) ini. Lalu para sahabat bertanya, Ya Rasulullah, tidak tertandingi oleh jihad fi sabilillah sekalipun? Beliau menjawab, (Ya), tidak tertandingi oleh jihad fi sabilillah sekalipun, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa raga dan hartanya, lalu ia tidak kembali dengan apa pun (yakni mati syahid). HR Bukhari.
Orang yang dipilih Allah swt dari ratusan juta kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji adalah orang yang sangat beruntung. Beragam keistimewaan dan keutamaan yang berpuncak pada surga yang menantinya jika ia meraih haji mabrur. Namun, ujian dan cobaan yang mengotori kemabruran hajinya juga tidak sedikit. Dari sekian banyak ujian, ada 3 (tiga) hal yang disebut dalam ayat di atas yang perlu senantiasa diwaspadai oleh jama ah haji, yaitu rafats, fusuq dan jidal.
Sesungguhnya kemunkaran dan hal-hal negatif selama musim haji di tanah suci cukup banyak. Sehingga tidak benar, persepsi sebagian orang bahwa Tanah Suci sepi dari kemaksiatan dan kemunkaran. Ketika Al Quran hanya menyebut tiga hal negatif tersebut, hal ini memberikan pemahaman kepada kita bahwasanya peluang untuk melakukan ketiga perbuatan negatif itu dalam muktamar yang dihadiri jutaan kaum muslimin sedunia dengan beragam warna kulit, bentuk fisik, suku, ras, bahasa dan adat amatlah besar. Sehingga tidak berlebihan jika ada yang berkomentar, bahwa setiap jamaah haji berpotensi untuk berbuat rafats, fusuq dan jidal, baik pra haji, di tengah penunaian berbagai manasik (ritual) haji maupun pasca haji, menjelang kepulangannya ke tanah air misalnya.
Ibnu Jarir dalam kitab Tafsirnya (II/273-279) secara panjang lebar menghadirkan penafsiran para ulama tentang rafats yang dapat disimpulkan, bahwa rafats adalah jima (bersetubuh) dan permulaan-permulaannya seperti bercumbu serta perkataan yang menimbulkan birahi. Lalu fusuq adalah semua bentuk maksiat dan larangan-larangan bagi orang yang berihram. Sedangkan jidal adalah berbantah-bantahan, saling panggil memanggil dengan gelar yang buruk dan debat kusir seperti saling mengklaim bahwa apa yang dilakukan paling baik/benar dan semua perbuatan yang memicu konflik, kedengkian dan permusuhan.
Ketiga hal ini diberi penekanan khusus untuk dijauhi, karena Allah SWT menginginkan jamaah haji untuk melepaskan diri dari segala gemerlap dunia dan tipu dayanya, serta mensucikan diri dari segala dosa dan keburukan. Sehingga terwujudlah tujuan yang diinginkan dari ibadah haji yaitu Tahdzib An Nafs (pensucian jiwa) dan mengarahkannya secara total untuk beribadah kepada Allah SWT semata. Dan hanya jamaah haji yang mampu menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan negatif tersebutlah yang diibaratkan Nabi SAW seperti bayi yang baru lahir ke dunia tanpa dosa.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji, tidak rafats dan berbuat fasik, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari di saat ia dilahirkan ibunya.” (HR Bukhari dan Muslim) Setelah melarang berbuat keburukan, Allah SWT membangkitkan semangat mereka untuk melakukan kebaikan seraya berfirman, “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” Dilihat dan diketahui Allah merupakan penghargaan dan balasan dari Allah sebelum balasan yang sesungguhnya. Sehingga memotivasi seorang mukmin untuk semakin banyak memproduksi berbagai macam kebaikan.
Kunci menjaga haji mabrur
Prof Dr H Muslich Shabir MA, Dosen IAIN Walisongo Semarang, mengatakan haji mabrur merupakan haji yang dilaksanakan dengan niat karena Allah semata, dengan biaya yang halal dan mengerjakan segala ketentuan berhaji dengan sempurna. Haji itu tidak dicampuri pula dengan perbuatan dosa, sunyi dari riya’ dan tidak dinodai dengan kata-kata kotor (rafats), perbuatan yang melanggar aturan (fusuq) dan tidak berbantah-bantahan (jidal).
Kebalikan haji mabrur adalah haji mardud, yakni haji yang dibiayai dengan dana tidak halal dan yang biasa dimakan juga dari hasil yang haram. Ketika orang yang seperti itu mengucapkan talbiyah, Allah menjawabnya: ”Tidak ada labbaik dan tidak ada keberuntungan atasmu karena apa yang kamu makan dan apa yang kamu pakai itu haram sedangkan hajimu mardud (ditolak)”.
Haji mabrur merupakan hasil maksimal yang didambakan oleh setiap jama’ah haji karena haji yang seperti itu menjamin pelakunya untuk masuk surga. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dinyatakan bahwa haji mabrur itu tidak ada balasan lain kecuali surga, dan kemabruran haji itu ditandai dengan memberikan makan dan menyebarkan kedamaian.
Namun dalam kenyataannya, untuk memastikan apakah haji seseorang itu mabrur, sangatlah sulit. Belum tentu jamaah haji yang sudah melaksanakan rukun-rukun haji bahkan dengan sempurna, hajinya itu akan mabrur. Haji bukan hanya berkaitan dengan penyempurnaan rukun-rukunnya saja. Kemabruran haji juga dinilai dari pra pelaksanaan, seperti niat melaksanakan ibadah haji, serta lebih penting lagi paska pelaksanaan ibadah haji. Oleh karena itu, melestarikan kemabruran ibadah haji menjadi hal yang sangat penting yang mesti diperhatikan jamaah haji setelah kepulangannya dari Tanah Suci. Secara umum, kemabruran ibadah haji seseorang ditunjukkan melalui perubahan sikap, mental, dan perilaku seseorang hingga menjadi lebih baik dari sebelum melaksanakan ibadah haji dan meningkatnya kualitas ibadah. Seseorang haji yang kembali dari tanah haram, dia akan memulai hidupnya dengan lembaran baru, menapak jalan yang kokoh dalam beribadah, dalam pergaulan dan dalam berakhlak. Maka dia menjadi orang yang tampil beda dengan sikap jujur dalam kerjasama, banyak melakukan kebaikan, mencurahkan amar makruf dan hatinya bersih. Setiap tahunnya, jutaan orang diasah kembali kesadaran dan ingatannya akan kebesaran dan keagungan Sang Khaliq. Mestinya, setiap tahun, jutaan orang di dunia ini menjadi lebih baik perangai sosial, akhlak, dan moralitasnya. Namun kenyataannya di lapangan berkata lain. Kita patut prihatin jika melihat banyak muslim bergelar haji yang tidak menjadi lebih baik dari sebelumnya, seperti para artis, pejabat, ataupun politisi.
Oleh karena itu, jawaban dari pertanyaan, ”apa yang harus dilakukan seseorang sekembalinya dari ibadah haji?” adalah menjaga dan memelihara kemabruran haji dengan mengupayakan peningkatan kualitas keberagamaan, dalam tataran iman, ibadah, amal saleh, maupun akhlak. Kemabruran haji yang telah diperoleh oleh setiap jamaah harus selalu dijaga supaya ia benar-benar bisa mencapai husnul khatimah ketika sakaratul maut. Dengan demikian, dia akan selalu meninggalkan akhlak yang tercela. Ditinggalkannya semua perbuatan yang menyimpang dari hukum Allah maupun hukum negara. Dia jauhi semua yang haram bahkan yang syubhat sekali pun.
Apabila dia seorang pedagang maka dia akan berdagang secara jujur. Apabila dia seorang pejabat, maka dia akan menjalankan amanah itu dengan sebaik-baiknya dan menjauhi perbuatan korupsi sekecil apa pun; begitu seterusnya. Untuk menjaga kemabruran haji dalam hal ubudiyah, dapat diaktualisasikan melalui beberapa tahapan, baik ubudiyah yang bersifat mahdhoh (ibadah murni) atau ghairu mahdhoh (ibadah yang tidak murni). Indikasi kemabruran haji dalam hal ubudiyah yaitu adanya peningkatan ibadah dan nampak pada kepribadian seseorang yang berhaji. Bila selama di tanah suci begitu semangat melaksanakan shalat jamaah di masjid, bahkan hampir tidak ada shalat yang tidak dilaksanakan dengan berjamaah, maka sekembalinya dari tanah suci, kebiasaan yang baik itu perlu dilanjutkan. Selain itu, shalat wajib lima waktu akan selalu dilaksanakan tepat pada waktunya dan diusahakan dapat shalat berjamaah di masjid, bahkan ditambah dengan shalat-shalat sunah.
Ringkasnya, orang yang menyandang predikat haji mabrur akan memulai hidupnya dengan lembaran baru sepulangnya dari Tanah Suci. Sehingga, akan sangat terasa manfaatnya bagi keluarga dan masyarakat. Keluarga akan menjadi lebih damai, teduh, dan bahagia. Masyarakat secara keseluruhan pun akan menjadi masyarakat madani yang selalu sadar terhadap kebesaran Allah SWT. Bagaimana dengan Anda? //**
Pengasuh : KH.Kasmudi Assidiqi
Jumat, 27 Agustus 2010
Waspada Kebinasaan Setiap Saat
Saat ini, salah satu diantara bangunan tertinggi di dunia adalah hotel berbintang 7 pertama di dunia. Letaknya di Dubai, Uni Emirat Arab. Tingginya 321 meter. Jumlah kamar suitenya hanya 202 ruangan. Menghebohkan orang-orang kaya di dunia karena kesupermewahannya. Namanya Burj Al-Arab.
Ingin melihat seperti apa kamar-kamar suite “surga dunia” serta setara berapa buah mobil BMW tarip kamarnya semalam? Kunjungi saja www.aljumeirah.com.
Sebenarnya masih ada gedung yang jauh lebih tinggi lagi, diatas 400 meter. Letaknya di jantung perekonomian dunia New York, Amerika. Tetapi hampir sepuluh tahun lalu, gedung itu sudah sudah luluh-lantak. Musnah dalam hitungan puluhan menit.
Ground Zero adalah sebidang tanah kosong tempat gedung kembar World Trade Centre yang pada tanggal 9 September 2001 ditabrak 2 pesawat berpenumpang dan berbahan bakar penuh yang dibajak dan berubah menjadi “bom”.
Bagi masyarakat dunia, Ground Zero menjadi monumen simbol kejahatan terorisme yang berdampak sangat besar terhadap peradaban dunia pada umumnya, dan terhadap pandangan dunia terhadap Islam pada khususnya. Nama yang berbau Arab, apalagi bagi pria berjenggot, sejak itu menjadi sulit sekali memperoleh visa. Negara Irak yang berdaulat, menghilang. Dsb.
Tetapi dari sudut pandang lain, Ground Zero adalah simbol ketidak-kekalan, kehancuran. Bahwa segala sesuatu di dunia itu akan binasa. Kebinasaan yang tidak mengenal belas-kasihan, sehingga sepagian itu saja 5000an orang tewas terpanggang api dan tertimbun reruntuhan.
Ground Zero juga merupakan simbol ketidak-berdayaan. Bahwa sebuah negara super-power yang sedemikian tinggi teknologi pertahanan-keamanannya, pun tidak mampu mencegahnya.
Kullukum Dloollun ...
Didalam sebuah hadits qudsi, Alloh berfirman:
Yaa ‘ibaadii kullukum dloollun illaa man hadaituhu fastahduunii ahdikum
Yaa ‘ibaadii kullukum dloollun illaa man hadaituhu fastahduunii ahdikum
Wahai hamba-Ku sesungguhnya kamu sekalian sesat, kecuali orang yang telah Aku beri hidayah. Maka mintalah hidayah kamu sekalian kepada-Ku, niscaya Aku beri hidayah.
Hidayah benar-benar pemberian Alloh. Hidayah tidak mengenal nasab atau keturunan. Tidak serta merta karena ayah iman kemudian anak juga iman. Contohnya Nuh dan Kanan. Sebaliknya, tidak serta karena merta anak iman kemudian ayah iman. Contohnya Ibrahim dan Azar. Tidak serta merta karena suami iman kemudian isteri iman. Contohnya Luth dan Wahila. Sebaliknya juga, tidak serta merta karena isteri iman kemudian suami iman. Contohnya Asyiah dan Fir’aun.
Innaka laa tahdi man ahbabta walaakinnallooha yahdii man yasyaa ~ sesungguhnya engkau tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang kau cintai, tetapi Alloh memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki.
Bahkan Nabi Muhammad tidak bisa memberi hidayah kepada paman yang paling dicintainya.
Bahkan Nabi Muhammad tidak bisa memberi hidayah kepada paman yang paling dicintainya.
Kullukum Jaai’un ...
Didalam hadits qudsi yang sama, Alloh berfirman:
Yaa ‘ibaadii kullukum jaaiu’n illaa man at’amtuhu fastat’imuunii ut’imkum
Yaa ‘ibaadii kullukum jaaiu’n illaa man at’amtuhu fastat’imuunii ut’imkum
Wahai hamba-Ku sesungguhnya kamu sekalian lapar, kecuali orang yang telah Aku beri makan. Maka mintalah makan kamu sekalian pada-Ku, niscaya aku beri makan.
Diantara kemahaluarbiasaan kehidupan di dunia adalah bagaimana sekian milyar manusia bisa makan. Rata-rata sehari tiga kali pula. Dengan makanan pokok yang tidak tergantikan. Artinya, di Indonesia misalnya, walaupun sudah habis berporsi-porsi mie bakso, masih tetap merasa lapar, karena belum makan nasi.
Demikian melimpahnya makanan dan minuman, tidak pernah merasa kelaparan dan kehausan, sehingga manusia sering lupa bahwa makanan itu Alloh yang memberi. Apalagi dengan adanya industri makanan minuman yang membuat segalanya serba instant.
Bukti lupa? Betapa sering menjelang makan dan minum tidak mendahulukan membaca Bismillah.
Kullukum ‘Aarin ,,,
Masih didalam hadits qudsi yang sama, Alloh berfirman:
Yaa ‘ibaadii kullukum ‘aarin illaa man kasautuhu fastaksuunii aksukum
Yaa ‘ibaadii kullukum ‘aarin illaa man kasautuhu fastaksuunii aksukum
Wahai hamba-Ku sesungguhnya kamu sekalian telanjang, kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka minta pakaianlah kamu sekalian pada-Ku, akan Aku beri pakaian.
Manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang dan dikuburkan dalam keadaan telanjang pula. Kain kafan bukanlah pakaian, melainkan kain pembungkus. Buktinya, Islam tidak mengenal model pakaian mayat, kecuali model pocong.
Ada sebuah peristiwa dimana sepasang suami isteri tiba-tiba ditelanjangkan oleh Allah. Karena pelanggarannya memakan buah khuldi, Adam dan Hawa diusir dari sorga ke dunia. Pakaian kebesaran yang mereka pakai di sorga, tiba-tiba melorot dari badan.
Maka itu, dalam visualisasi agama samawi lain bahwa Adam dan Hawa memakan buah dengan telanjang bulat, adalah keliru. Saat mereka masih bobogohan berduaan, tentunya mereka masih memakai pakaian, karena saat itu masih di sorga. Sebaliknya, mereka telanjang pada saat diturunkan di tempat yang berbeda, dan sangat berjauhan. Yang satu di India, yang satu di Jeddah, ketemu 80 tahun kemudian di Jabal Rahmah.
Tsalabah dengan isterinya, oleh Alloh hanya diberi sehelai kain, sehingga sholat berjamaah ke masjid pun harus bergantian. Beberapa suku di pedalaman di Asia dan Amerika Selatan, di zaman ini masih ada yang bulucun alias telanjang.
Sejak dilahirkan pakaian sudah menjadi bagian dari kehidupan. Karena pakaian dibutuhkan lebih primer daripada makanan, maka dikenal istilah ‘sandang-pangan’, bukan ‘pangan-sandang’. Tanpa makanan, manusia bisa tahan berhari-hari. Tetapi tanpa pakaian? Sedetikpun manusia tidak mungkin bisa eksis tanpanya. Kecuali di kamar mandi.
Berdasarkan hadits qudsi diatas, pakaian itu pemberian Alloh. Maka mintalah pakaian kepada-Nya.
Semua Iman atau Durhaka
Fiman Allah didalam hadit qudsi yang sama:
Yaa ‘ibaadii lau anna awwalakum wa aakhirokum wa insakum wa jinnakum kaanuu 'alaa atqo qolbi rojulin waahidin minkum, maa zaada dzaalika fii mulkii syai-an
Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang terdahulu, orang-orang kemudian, seluruh manusia, seluruh jin, semua taqwa kepada Alloh sebagaimana taqwa hatinya seorang laki-laki yang paling taqwa di antara kamu sekalian, demikian itu sedikitpun tidak akan menambah kepada kerajaan Alloh.
Fiman Allah didalam bagian akhir dari hadit qudsi:
Yaa ‘ibaadii lau anna awwalakum wa aakhirokum wa insakum wa jinnakum kaanuu 'alaa afjari qolbi rojulin waahidin maa naqosho dzaalika min mulkii syai-an
Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang terdahulu, orang-orang kemudian, seluruh manusia, seluruh jin, semua durhaka kepada Alloh sebagaimana durhaka hatinya seorang laki-laki yang paling durhaka di antara kamu sekalian, demikian itu sedikitpun tidak akan mengurangi kepada kerajaan Alloh.
Artinya, orang beriman semakin lama semakin banyak, sampai seluruh dunia beriman semua, Alloh tetap Dzat Yang Maha Mulia, tidak bertambah sedikitpun karena seluruh manusia, plus para jin, sejagat raya beriman semua.
Sebaliknya, orang durhaka semakin lama semakin banyak, sampai seluruh dunia durhaka semua, Alloh tetap Dzat Yang Maha Mulia, tidak berkurang sedikitpun karena seluruh manusia, plus para jin, sejagat raya durhaka semua.
***
Jika manusia sesat diberi hidayah oleh Alloh, jika manusia lapar diberi makanan oleh Alloh, jika manusia telanjang diberi pakaian oleh Alloh, jika manusia iman semua tidak menambah kerajaan Alloh, dan jika manusia durhaka semua tidak mengurangi kerajaan Alloh, lalu manusia ini apa?
Jika manusia sesat diberi hidayah oleh Alloh, jika manusia lapar diberi makanan oleh Alloh, jika manusia telanjang diberi pakaian oleh Alloh, jika manusia iman semua tidak menambah kerajaan Alloh, dan jika manusia durhaka semua tidak mengurangi kerajaan Alloh, lalu manusia ini apa?
Bangunan tertinggi dan terkokoh di dunia, terletak di jantung dunia, melambangkan pusat kekuatan ekonomi dunia, di negara super-power dengan teknologi hankam spektakuler paling canggih di dunia.
Ingatlah Ground Zero dimana segala kemegahan dan kemewahan dan kehiruk-pikukan dan kedigjayaan sehebat apapun, dapat rusak binasa seketika.
Siapa menyangka Roman Empire penguasa dunia sekian abad, saat ini hanya meninggalkan reruntuhan diantaranya Colosseum di Roma?. Siapa menyangka Ottoman Empire penguasa dunia kekhalifahan sekian abad berikutnya, hanya meninggalkan diantaranya masjid kubah biru di Istanbul?
Maka bersyukurlah bagi mereka yang sepertinya bukan apa-apa, tetapi sudah dalam taraf yakin memperoleh pathway to heaven ~ jalan ke sorga. Mereka tidak lagi manusia ‘bukan apa-apa’. Mereka adalah khoirul bariyyah ~ sebaik-baiknya manusia, yang tahu halal-harom, pahala-dosa, qisos, kaffaroh, yang tahu cara mencari sorga dan menghindar dari neraka.
Tinggal mengikat hidayah, sambil waspada bahwa kebinasaan, dalam bentuk yang dikehendaki Alloh, pada saat dan dengan cara yang tidak terduga, akan ditimpakan kepada makhluq-Nya.
Langganan:
Komentar (Atom)